Wisata Keren

User Online : 3







Sponsor

05
Jan

Taling Chan, Terminal 21 dan Restoran Guiness Book of Records #Day 9

Sun 05 Jan 2014, 11:43am

0

    Bangkok biasanya disebut sebagai "Venesia" nya Asia karena banyaknya jaringan kanal sungai yang dimanfaatkan, banyak orang kesana kemari menggunakan perahu bahkan menjual barang dagangan mereka langsung dari perahu. Munculah yang namanya pasar apung (floating market), dari yang dulunya merupakan aktifitas sehari-hari, hingga akhirnya dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Sejatinya belum ke Bangkok kalo belum menilik ke pasar apungnya. Setidaknya setelah melakukan riset, pasar apung yang rekomen untuk dikunjungi, yaitu : Damnoen Saduak, Amphawa, dan Taling Chan.

 

1. Damnoen Saduak

    Salah satu pasar apung yang terkenal namun tidak mengesankan keasliannya karena memang dibangun sebagai 0byek wisata. Lokasinya kira-kira 100 km sebelah barat daya dari kota Bangkok, Distrik Ratchaburi. Waktu terbaik mengunjungi adalah sepagi mungkin untuk menghindari kerumunan wisatawan lain yang juga datang. Salah satu cara menuju kesini dengan mengikuti tur lokal bisa beli disini (sudah termasuk antar jemput dari dan ke hotel di Bangkok, longtail boat bermesin, dan guide berbahasa Inggris).

    Kalau mau repot sedkit, bisa naik minivan dari pangkalan minivan di Victory Monument (dekat Stasiun BTS Victory Monumen) dengan biaya THB 90. Minivan yang pertama berangkat jam 6 pagi, kalau boleh minta supirnya menurunkan di pasar Damnoen Saduak. Kalau diturunkan di Stasiun Boat, bisa jalan kaki sekitar 10-15 menit menuju pasarnya, daripada naik longtail boat bermesin yang dibandrol THB 1000 per boat. Tapi kalau masih keukeuh mau naik longtail boat bermesin, tawar aja sekitar THB 400 per boat. Jangan lupa tawar per boat (kalo nggak akan dikenai per orang alias kena SCAM).

 

Damnoen Saduak

 

    Setiap hari ratusan perahu berkerumun menjual dagangannya dari pagi hingga siang hari. Saat sudah didalam pasar, sewa perahu dayung (paddle boat) aja lebih nyaman dalam menyusuri pasarnya, dengan biaya sekitar THB 100-150 per orang.

 

2.  Amphawa

    Pasar apung kedua yang terkenal dekat dengan kota Bangkok tapi tidak sebesar Damnoen Saduak, namun benar-benar asli bahkan sebagaian besar pengunjungnya adalah orang Thailand. Pasar ini sudah eksis sejak 50 tahun yang lalu. Lokasinya sekitar 50 km dari kota Bangkok, dan hanya buka pk.12.00 - 20.00 dihari Jumat, Sabtu dan Minggu saja. Untuk menuju kesini bisa juga dengan mengikuti tur lokal beli disini, atau juga bisa naik minivan dari Terminal Victory Monument.

 

Amphawa  (Credit : Robnlville)

 

3.  Taling Chan

    Pasar apung terdekat dari pusat kota Bangkok ini, berada di pinggir kanal Bang Khun Sri, tepatnya di distrik Taling Chan sisi sebelah barat kota Bangkok. Taling Chan juga dikenal sebagai pasar apung tradisional yang masih asli. Pasar ini hanya buka diakhir pekan (Sabtu dan Minggu), mulai Pk. 9 pagi hingga Pk. 5 sore. Pasar inilah yang akhirnya menjadi jujugan pilihan kunjungan kami, salah satu alasannya krn anak-anak gak bisa bangun pagi hehehe...jadi kesini gak perlu pagi-pagi buta. Selain itu akses menuju kesini termasuk paling mudah, dibanding kedua pasar apung sebelumnya.

 

    Kebetulan hari itu merupakan akhir pekan di Bangkok dan rupanya anak-anak memang tidak bisa bangun pagi-pagi buta, jadi pilihan jatuh ke Taling Chan Floating Market. Saya coba hitung jika menuju ke Taling Chan dengan kombinasi naik BTS turun di St. Wong Wian Yai dan dilanjut dengan naik taksi, total biaya kok mahal untuk berempat. Jadi saya putuskan sekalian aja naik taksi dari tempat kami menginap di Phloen Chit langsung menuju Taling Chan. Sekitar jam 9 kami sudah berada di depan BTS Phloen Chit dan melambaikan tangan jika ada taksi lewat, hampir setiap taksi yang berhenti dan saya sodori foto pasar Taling Chan rata-rata menolak mengantar (mungkin karena Taling Chan berada di distrik pinggiran, si sopir merasa rugi kali ya dan lebih suka berputar-putar di pusat kota). Tapi akhirnya yang ditunggu datang juga, taksi yang kesekian berhenti, saya sodorkan foto, saya minta menggunakan argo, si sopir manggut-manggut tanda setuju.

 

Foto Mujarab Untuk Disodorkan ke Sopir Taksi

 

     Beberapa menit taksi berjalan, si sopir dengan ramahnya memulai obrolan, menanyakan kami dari mana, kok bisa tahu ada pasar namanya Taling Chan. Di tengah obrolan tercetuslah penawaran dari si sopir, "Hari ini ada satu pabrik fashion yang baru buka dan kebetulan hanya memberikan diskon gede pas 'weekend', mau nggak diantar mampir kesana sebelum lanjut ke Taling Chan". Eng...ing...eng, gelagat gak enak alias SCAM mulai terasa nich (batin saya), kontan aja saya tolak penawarannya secara halus dan minta langsung aja diantar ke Taling Chan. Merasa penawarannya gagal, sambil terus ngoceh dalam bahasa Inggris yang terbata-bata, si sopir mengatakan "Taling Chan itu jauh di seberang sungai Chao Phraya, lebih baik saya antar ke dermaga dan lanjut naik perahu, supaya lebih murah" sela-nya. Sopir kayaknya sudah gak niat antar (wah payah nich), "Ya udah antar aja ke dermaga" sahutku.

    Taksi meluncur, sambil melirik argo yang terus menanjak, saya sudah pengin aja mau stop dan lompat dari taksi ini kalo diajak putar-putar, tapi berhubung mengarahnya memang benar ke sungai Chao Phraya, jadi sabar...sabar..., hingga akhirnya masuk ke jalan agak sempit dan taksi menghentikan lajunya persis di depan dermaga. Dung...ng...demaga yang tidak saya kenal terpampang di depan mata. Si sopir mengatakan turun disini, jalan ke dermaga dan naik perahu di dermaga tersebut, wah...sontak saya gak mau karena gak jelas tuh perahu tujuannya mau kemana dan sepertinya bukan perahu publik, tapi dianya mau bantu samperin ke tukang perahunya (alamat SCAM jilid 2 nich, batin saya lagi). Saya katakan ke sopir, antar ke dermaga Saphan Taksin aja dech. Setelah tarik ulur dan kami gak mau turun dari taksi, akhirnya si sopir nurut mengantar ke dermaga Saphan Taksin. Setelah tiba di dermaga Saphan Taksin, baru saya lega. Argo yang saya lirik pun hanya menunjukkan angka THB 97 (Puji Tuhan...gak sampek kena getok lebih dalem). Sebelum turun saya minta no. HP si sopir, gantian dia yg jadi canggung, saya katakan sapa tau nanti bisa dicall buat antar-antar (padahal dalam hati gak mungkin lah pake sopir taksi macem gini lagi). Inilah salah satu alasan kenapa kalo bepergian independen, sebisa mungkin tidak menggunakan taksi, karena kontrol bukan ditangan kita hehehe, lebih aman naik transportasi publik semacam MRT atau Bis Publik yang sudah pasti kita mau turun dimana.

    Di dermaga Saphan Taksin yang familiar ini, saya cukup naik BTS 2 stop, turun di St. Wong Wian Yai. Nah turun di St. Wong Wian Yai, saya cegat taksi lagi untuk minta diantar ke Taling Chan dan saya minta pake argo (gak kapok? hehehe....Imanuel - Tuhan beserta kita). Taksi meluncur dengan aman dan berhenti persis di belokan jalan dan depan pintu masuk Pasar Taling Chan dimana ada prasasti dengan foto Raja Thailand. Argo taksi hanya menunjukkan THB 99.

 

Akses Masuk Pasar Taling Chan dengan Foto Raja

 

Chicken Rice dan Bis

 

    Sebelum masuk pasar, di ujung belokan jalan ini juga, kami jalan kaki mampir dulu ke depot yang jualan chicken rice untuk makan. Di belokan ini saya juga sempat melihat bis melintas dan stop juga disini, baru tahu juga ternyata ada moda transportasi alternatif lain untuk menuju kesini, yaitu menggunakan bis no. 79 ini. Nah naiknya dari mana itu yang menjadi tanda tanya. Ketika untuk kedua kalinya di lain kesempatan saya kesini lagi, saya cukup naik bis no. 79 ini, karena lebih nyaman dan langsung turun di depan pasar sini, ongkos juga muraaah (a nya banyak krn memang jauh lbh murah) plus gak pake acara SCAM segala.

    Perut sudah kenyang, giliran jalan kaki masuk pasar dari depan hingga mendekati tepi sungai, suguhan beraneka buah-buahan, camilan, minuman dan sovenir khas pasar tradisional yang ada di kiri kanan jalan benar-benar menggoda. Baru kali ini saya jalan-jalan blusukan masuk pasar tradisional yang biasanya kumuh, bau dan jorok, e...ternyata disini semua bayangan itu sirna, pasar yang benar-benar bersih bahkan tolietnya pun bersih xi..xi..xi.

 

Toilet yang modern di pasar tradisional Taling Chan

 

buah-buahan berlimpah

 

Durian lagi

 

    Sayang, pada saat kesini bukan musimnya durian, jadi hanya menemukan beberapa lapak aja yang jual buah durian, dengan harga standar. Di sebuah lapak, saya menemukan buah dengan bentuk unik yang belum pernah saya temui sebelumnya dan namanya asing banget ditelinga kita. Orang Thailand menyebutnya buah "Fak Khao", kalo dunia internasional menyebutnya buah "Gac".  Kandungan buah ini kaya akan antioksidan beta karoten (Vitamin A), 10 kali lebih banyak daripada wortel dan 70 kali lebih banyak dari tomat. Jika minum ekstrak / juice-nya berpotensi menurunkan tekanan darah, menurunkan kolestrol, mengurangi gula dalam darah, melawan kanker prostat. Buah ini juga banyak digunakan sebagai bahan dasar pil suplemen.

 

Buah Gac

 

    Di pasar ini, hal yang saya suka dari berbagai macam jajan pasar yang ditawarkan oleh pemilik lapak disini, packing-nya rapi sehingga terkesan bersih dan menggoda lidah untuk meneteskan air liur tanda pengin. Ya akhirnya gelap mata dan dibelilah satu persatu jajanan yang belum pernah kita temui ini. Harganya pun murah-murah kok.

 

 

 

Jajanan yang asing ramah dikantong

 

 

Lapak Sovernir Biksu Lucu

 

    Sesampai di ujung dekat jembatan untuk masuk ke pasar apungnya, kita menjumpai keanehan, ada begitu banyak ikan patin sungai yang bergerombolnya hanya disitu-situ aja, sehingga menjadi tontonan unik tersendiri apalagi kalo dilempari roti, langsung bunyi kecipak kecipuk air, gara-gara ikannya rebutan. Ini spot unik yang ada di Taling Chan, bahkan jadi perhatian seorang reporter lokal cantik,  yang ikut memberi makan ikan sambil ngoceh komat kamit memberi penjelasan seputar pasar dan direkam oleh kru videonya.

 

Gerombolan ikan patin yang jadi obyek tontonan

 

Sang Reporter

 

    Jika beranjak ke sebelah kanan dari dek sini, kita akan menjumpai sebuah konter yang menyediakan penjualan tiket mini tur sungai. Tur ini mengajak pengunjung naik perahu berputar-putar selama 1 jam mengelilingi sungai kawasan Thonburi ini, melihat gaya kehidupan warga Thailand yang berada di sepanjang kanal sungai, melewati perkebunan buah, sayur-sayuran dan kebun bunga orchid (anggrek). Biaya tiket yang ditawarkan THB 60 per orang.

 

Konter Tiket Tour Sungai

 

Ketentuan Tour dan jam berangkat

 

    Kalau memang tertarik dan sudah membeli tiket mini tour ini, kita bisa menunggu di dermaga Taling Chan yang lokasinya berada di bawah jembatan lintasan kereta api. Serunya kalau ada kereta api lewat di atasnya menyeberangi sungai ini. Tempat kita berpijak serasa bergoyang dengan suara bergemuruh. Disini yang pegang tiket menunggu giliran untuk naik perahu motor tradisional yang membawa menyusuri sungai.

 

Dermaga Taling Chan

 

    Berhubung gak keburu waktunya, kami melewatkan tour sungai ini dan lebih suka untuk menelusuri sisi kuliner, dimana para penjaja makanan yang berjualan dari perahu, sekaligus nimbrung dengan penduduk lokal. Yang duduk lesehan saat itu lumayan ramai sekali. Makanan hasil laut yang masih segar banyak dijual dan langsung dimasak dan dinikmati, sekaligus siap-siap naik tingkat kholestrolnya.

 

Serunya makan di pasar apung tradisional

 

Jualan dari atas perahu

 

Kerang dan Mr. Crab

 

Si Bongkok

 

Cumi-cumi siap dimasak

 

Ikan bakar nyam...nyam...

 

    Setelah puas mencicipi ini itu, kita berjalan keluar pasar lewat arah yang sama dengan ketika masuk, jalan hingga ujung belokan. Nah karena sudah tahu kalau ada bis yang no. 79 tadi, kita berniat naik bis aja untuk kembali ke kota. Awalnya bingung, kita mesti nunggu yang sisi sebelah mana, kebetulan berbarengan nunggu ada bule yang juga ikutan, saya ajak ngobrol untuk menanyakan ternyata dia juga gak tahu mesti naik dari sisi sebelah yang mana, sekalinya dia juga ngikutin kami. Ya...sama aja...Akhirnya istri nanya ke penjual chicken rice tempat kita makan saat pertama kali datang, dari infonya disuruh nunggu di depan Sevel.

 

Tempat nunggu bis pulang ke kota Bangkok

 

    Selang beberapa menit, bisnya datang. Meski penampakan bagian luar bis terlihat sudah berusia lanjut, tapi bagian dalamnya cukup bersih dan AC-nya duingin puol. Perjalanan yang ditempuh dari pasar Taling Chan menuju Kota Bangkok sekitar 45 menitan. Ketika bis perlahan memasuki tengah kota, saya memberi tahu kondekturnya untuk minta turun di Siam Center. Dan tepat sekali bisnya memang berhenti di depan pintu masuk Siam Center.

    Hari sudah menjelang malam, sekitar pukul 5.30 ketika tiba di halte Siam Center, nah dari sini kita melanjutkan perjalanan untuk nge-mall. Dengan naik BTS, dari Stasiun BTS Siam, 5 stop untuk turun di Stasiun BTS Asok. Di stasiun BTS Asok, persis di depannya sudah terpampang tulisan Terminal21 serta ada koridor yang terhubung langsung menuju pintu masuk mallnya. Sebuah eskalator yang gak lazim dalam suatu mall langsung jadi perhatian, betapa tidak, eskalator tsb puanjang banget, menghubungkan lantai G ke lantai 3 (3 lantai sekaligus) .

 

Mall unik

 

    Mall Terminal21 ini, merupakan mall yang unik yang mengusung tema kota-kota ternama di dunia, seperti Tokyo, London, Istambul, San Fransisco termasuk Bangkok, disetiap lantai didesain dengan memajang ikon-ikon khas kota tsb. Selain itu di bagian tengah atriumnya berdiri sebuah replika jembatan yang terkenal di Bangkok dan di atrium sisi lainnya berdiri sebuah replika mercusuar khas ikon mall ini. Di dalam mall ini, kita juga bisa minta username dan password wifi yang bisa dipakai selama 1 tahun di dalam area mallnya, khusus untuk turis, harus menunjukkan paspor. Silahkan datangi aja meja informasi. Wifi akan otomatis konek ketika kita kesini lagi dalam masa setahun, koneksi wifi-nya kenceng bingit, lumayankan buat update statusmu.

 

Eskalator panjang menuju Zona Istambul

 

    Yang doyan mejeng, jangan melewatkan spot-spot untuk berfoto disetiap sudut setiap lantai mall ini.

 

Interior Zona Tokyo

 

Shophouse di Zona London

 

    Di Terminal 21 ini kami hanya jalan-jalan menikmati atmosfernya, untuk makan malam sudah putuskan untuk mencoba restoran yang pernah memecahkan rekor dan masuk di Guinness Book of Records, ada-ada saja.

    Berbekal nama dan alamat dari restoran ini, di pintu keluar Terminal 21, saya mencegat taksi karena akses kesana yang termudah hanya menggunakan taksi. Taksi warna hijau yang sedang melajupun berhenti, dan sungguh beruntung dapat sopir yang mau mengantar dengan menggunakan argo dan tidak harus naik toll. Tiba di depan restoran argo menunjukkan angka THB 88, cukup murah lah untuk berempat, manalagi lokasi di distrik Bangna, agak pinggir kota dan hampir dekat bandara Suvarnabhumi.

 

Bagian depan Restoran Royal Dragon

 

    Restoran Royal Dragon ini didirikan sejak tahun 1991. Tercatat sebagai restoran terluas waktu itu, sekitar 33.800 m2, dengan jumlah tempat duduk hingga 5000, dan mempekerjakan 1200 pegawai. Saking luasnya restoran ini, sehingga para pramusajinya harus pakai sepatu roda untuk wira wiri mengantarkan makanan yang dipesan ke meja-meja tamunya.

 

Plakat Guiness Book of Records di depan restorannya

 

    Kebetulan pas kami berkunjung, ada beberapa pengunjung lain yang memesan makanan seafood bakar-bakar (gak tau menu yang mana), tiba-tiba dari sisi sebelah kiri dari tempat saya duduk meluncur seorang staffnya berpakaian ala film silat mandarin bergaya seolah-olah terbang sambil membawa makanan yang dipesan, meluncur menuju dapurnya yang di seberang dan meluncur kembali turun untuk menyajikan ke meja yang pesan. Mereka menyebutnya "Flying Man Catering"

 

Jurus bawa baki

 

    Tidak seberapa lama kemudian makanan yang kami pesan sudah keluar semua. Kami menikmati sambil diiringi penampilan tari-tarian tradisional Thailand di panggung seberang tempat kami duduk. Untuk nuansa dan performnya bagus. Untuk taste, menurut saya sich lumayan seperti masakan Chinese Food pada umumnya. Dari segi harga juga standard, gak mahal. Selain Chinese Food, Sea Food juga tersedia Dim Sum, sayang menunya gak sempat saya foto.

 

Koloke

 

Ayam Goreng

 

    Setelah selesai makan, untuk kembali ke hotel, saya minta tolong di bagian Customer Service, untuk memanggilkan taksi, karena kalo tidak kita akan jauh berjalan menuju depan jalan raya. Sebagai penutup, silahkan catat alamat restoran ini : Royal Dragon Restaurant, 222 Bangna Rd, Bangna, Bangkok 10260, Tel. 662-3980037.



Belum ada komentar untuk blog ini.

Ninggalin Jejak





 (opsi : Isikan link web-mu jika ada)



     Ikuti jejak komentar via email (Subscribe)

Kode Sekuriti