Wisata Keren

19
Nov

Wat Pho, Wat Arun dan Asiatique lanjutan #Day 6

Tue 19 Nov 2013, 1:00am

4

    Masih berada di distrik Rattanakosin tepatnya di belakang Grand Palace, yaitu Wat Pho disinilah bersemayam patung raksasa Buddha sedang berbaring, yang juga daya tarik wisata Thailand. Untuk mencapai Wat Pho dari Grand Palace, saya penginnya menawar untuk naik tuk-tuk aja. Namun saat itu, kebanyakan tuk-tuk sudah berisi penumpang, mau nunggu kuatir kelamaan, hari itu sepertinya para turis sedang tumplek blek di Grand Palace dan hari sudah menjelang sore. Supaya tidak buang waktu, akhirnya mau gak mau, gerak jalan kaki lagi .

 

Ternyata Tuk tuk nya mangkal di depan Wat Pho

 

    Wat Pho juga termasuk dalam daftar warisan dunia oleh UNESCO sejak 2008. Nama resminya Wat Phra Chetuphon Vimonmangklararm (nama yang cukup panjang - kayak semut lagi berbaris). Biara ini merupakan biara kelas kerajaan yang pertama didirikan, dan di dalamnya tersimpan abu dari King Rama 1. Area dalam komplek Wat Pho juga cukup luas (80.000 m2).

 

Tiket Masuk

 

    Untuk masuk diwajibkan membeli tiket seharga THB 100, sekaligus berhadiah sebotol mineral water dingin, lumayan buat penyegar setelah berjalan kaki yang cukup melelahkan dari Grand Palace kesini. Setelah menyerahkan tiket, langsung saja ngeloyor masuk ke Phra Vihara of The Reclining Buddha, bangunan besar tempat patung raksasa tersebut, tepat disebelah kanan pintu masuk.

 

Bagian depan Vihara

 

    Awalnya sebelum dibangun kuil, komplek ini merupakan pusat dari pembelajaran pengobatan dan pijat tradisional Thailand, itu jua alasannya kenapa patung Buddhanya dibuat dengan posisi yoga (berbaring), selain itu juga merupakan "copy paste" dari reruntuhan patung Buddha berbaring yang berada di Ayutthaya. Untuk diketahui aja, kuil dengan patung Buddha tidur Ayutthaya pernah dihancurkan oleh serbuan tentara Burma di tahun 1767. Sering sekali, pelancong indo menyebut obyek wisata ini, patung Buddha tidur, padahal kenyataannya ekspresi mata patung Buddha tersebut terbuka dan tidak memejamkan mata layaknya orang tidur, jadi lebih tepat dikatakan patung Buddha berbaring. Tinggi patung 15 m dan panjangnya 43 m.

 

Patung Buddha Berbaring di Wat Pho

 

Patung Buddha Berbaring di Ayutthaya (credit : David Goetz)

 

    Didalam ruangan, saking banyaknya pilar-pilar raksasa yang menopang Phra Vihara ini, pengunjung tidak bisa leluasa melihat utuh patung Buddha berbaring dari depan. Kami tidak lama berputar-putar disini karena cuman sekedar ingin tahu saja mengenai warisan budaya yang tercatat di UNESCO ini, setelah keluar dari Reclining Buddha, saya menukarkan tiket dengan sebotol air minum dan beristirahat sejenak.

Komplek wat pho yang cukup luas ini merupakan satu dari kuil terbesar dan tertua di bangkok, dan merupakan rumah bagi ribuan patung Buddha selain patung Buddha berbaring tadi. informasi lebih lengkap mengenai kuil ini bisa diakses dari www.watpho.com

 

Map Komplek Wat Pho

 

    Berpacu dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul 5.30 PM waktu setempat, kami keluar dari komplek Wat Pho menuju dermaga Tha Tien (N8) yang berada dekat sekali. Dari pintu keluar, ambil arah jalan kekiri, jalan sedikit melewati sederetan penjual hasil olahan laut dan souvernir hingga masuk ke dalam dermaga kayu yang mana terdapat 2 anjungan. Anjungan dermaga untuk menyeberang berbeda dengan anjungan Express Boat, kita harus bayar dulu THB 3 (sebagai biaya perahu) untuk masuk ke anjungan khusus tempat lalu lalang perahu penyeberangan ke Wat Arun.

 

View Wat Arun dari dermaga Tha Tien

 

Perahu yang digunakan untuk menyeberang

 

    Sesampai di dermaga seberang, kami berjalan kaki lenggang kangkung dan gak tau kalau jam kunjungan komplek Wat Arun ini akan berakhir. Begitu sudah di depan gerbang masuk ke Wat Arun, dari kejauhan terlihat loket dan penjual tiketnya sudah siap-siap mau tutup, alamak... cepet-cepet saya hampiri dan menyodorkan uang untuk beli tiket, tanpa disangka-sangka, si petugas malahan menolak dan menyuruh kami untuk masuk aja sembari menutup loketnya dengan santai, ya...jadinya kami bisa masuk GRATIS nich, beneran nich, he...he..he (clink - hemat THB 200). Wat Arun dibuka untuk umum dari jam 08,30 AM - 5.30 PM, dengan biaya tiket masuk THB 50 per orang.

 

Gerbang depan

 

Loket penjual tiket masuk yang sudah tutup

 

    Wat Arun merupakan salah satu peninggalan Dinasti Cakri, selama jaman keemasan kerajaan Ayutthaya, kapal berbagai negara berlayar pulang pergi melewati jalur persimpangan yang dikenal dengan Distrik Thonburi ini. Dulunya ibukota Thailand berada disini sebelum dipindah ke Bangkok. Kapal akan berlabuh didepan kuil tua (Wat Makok). Suatu saat armada kerajaan Raja Taksin (pendiri ibukota Thonburi), tiba di Wat Makok tepat saat fajar menyingsing. Kapal bersandar dan berhenti turun untuk memberi penghormatan kepada Patung Buddha, perlu diketahui Patung Emerald Buddha awalnya berada dalam kuil ini sebelum akhirnya dipindahkan ke komplek Wat Phra Kaew. Sehingga akhirnya kuil diubah namanya menjadi Wat Chaeng (Temple of Dawn) oleh Raja Taksin.

    Penamaan Wat Arun sendiri mengambil kata Aruna yang merupakan Dewa Fajar agama Hindu di India. Meskipun bernama "Kuil Fajar", namun pemandangan terbaik justru pada saat menjelang matahari terbenam (sunset), jadi gak salah kalo kunjungan ke tempat ini saya jadwalkan di sore hari.

    Arsitektur bentuk Prang (menara) dari Wat Arun sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh gaya Khmer (Kamboja). Terdapat 1 Prang besar di tengah dengan ketinggian 80 meter dan 4 Prang kecil disetiap sudut. Ketika berada di bagian Prang yang tengah dan besar, sangat disarankan untuk berhati-hati jika naik ke atas, karena anak tangga untuk naik menuju dan turun dari puncak Prang ini sangat curam.

 

Tangga yang curam

 

    Saat berada di teras atas, mata pun bisa memandang bebas indahnya sungai Chao Phraya dari ketinggian di sore hari. Dibagian atas inipun bagi yang bersosok tinggi semampai seperti saya kudu tetep hati-hati lho, karena tembok pembatasnya (railing) terlalu rendah, rawan jatuh.

    Selang beberapa waktu, petugas dibawah mulai berteriak-teriak, memberitahu jam berkunjung sudah habis dan pintu keluar akan ditutup, beruntung saya sudah selesai mengelilingi 360 derajat untuk melihat pemandangan dari teras diatas. Kami pun bergegas turun dan berjalan kembali ke dermaga untuk naik perahu lagi menyeberang ke dermaga Tha Tien.

    Langit sudah semakin biru meredup tanda berganti malam. Perahu-perahu restoran alias "Dinner Cruise" pun mulai bersliweran. Di Bangkok banyak sekali perahu restoran yang menyediakan paket makan malam diatas perahu sambil menyusuri indahnya nuansa malam sepanjang sungai Chao Phraya ini. Paket yang ditawarkan pun beragam mulai dari yang ala carte hingga yang ala kadarnya..., dari yang paket mejaan hingga yang rebutan meja alias buffet / prasmanan xixixi.... Saya sudah mencatat beberapa Dinner Cruise dan berencana untuk mencobanya, namun kami urungkan karena jadwal yang tidak memungkinkan. Beberapa restoran penyelenggara yang saya dapat info, yang rekomend seperti Riverside Dinner Cruise atau Princess Dinner Cruise (menu lengkap western dan eastern).

    Dari dermaga Tha Tien, sekali lagi kami menunggu perahu yang berbendera oranye untuk membawa kembali ke dermaga Central. Kali ini, penumpang yang searah dengan kami buanyak, dari depan hingga buritan perahu benar-benar full, saking penuhnya sampek kondekturnya kesulitan menagih ongkos perahu THB 15 ke semua penumpang termasuk kami berempat, hohoho gratis lagi jadinya . Tidak berapa lama, perahupun merapat di dermaga Central lagi. Terlihat antrian mulai mengular di anjungan sebelah dari perahu ini merapat. Itulah anjungan tempat berlabuhnya shuttle boat GRATIS milik Asiatique. setelah turun kami pun cepat-cepat turut bergabung dalam antrian tersebut.

    Asiatique merupakan target kunjungan kami berikutnya. Asiatique merupakan perspektif baru untuk menikmati dan menghabiskan suasana malam di Bangkok, tempat ini merupakan perpaduan antara tempat belanja, tempat hiburan dan tempat makan malam yang berada di tepi sungai Chao Phraya dan hanya buka di malam hari. Pihak Asiatique memang menyediakan perahu khusus dari dermaga Central menuju dermaga Asiatique setiap 15 menit sekali, dimulai pukul 5 sore.

 

Shuttle Boat Gratis

 

    Begitu perahunya datang, orang-orang yang antri pada mau berlomba-lomba naik, beruntung ada petugasnya yang mengatur, sehingga yang keluar dari barisan antrian tidak disuruh balik antri dari belakang, nah lho. Beruntung juga saya bisa naik dan mendapat tempat duduk diperahu saat itu juga. Perahu pun berangkat menyusuri sungai, kurang lebih 10 menit-an, ketika perahu sudah dekat dan hendak merapat ke dermaga Asiatique, sekali lagi, tanpa disangka-sangka saya dikejutkan suara dar-der-dor, bak tamu istimewa ternyata kami disambut dengan pertunjukan kembang api yang meluncur silih berganti dari tengah sungai Chao Phraya. Wow....benar-benar wow dan wow....kami sekeluarga hari ini sangat beruntung, disambut dengan pertunjukan kembang api. Pertunjukan berlangsung sekitar 15 menitan dan hanya sekali. Jadi lengkaplah sudah menikmati pemandangan sepanjang sungai Chao Phraya disiang yang cerah, maupun malam yang bermandikan cahaya lampu-lampu gedung plus disambut pertunjukan kembang api.

 

Oleh-oleh pertunjukan kembang apinya

 

Asiatique The Riverfront

 

    Asiatique the riverfront dikemas sebagai spot festival pasar malam yang modern dan lumayan baru dibuka tahun 2012, unik dan menarik, saya katakan unik karena didalamnya banyak sekali menemukan jajanan yang aneh-aneh serta barang jualan seperti souvenir yang bentuknya kreatif-kreatif.

    Sekilas sejarah berdirinya Asiatique, lahan yang ditempati ini dulunya merupakan bekas pelabuhan dengan beberapa bangunan gudang milik perusahaan asal Denmark (East Asiatic Company) yang sudah lama menjalin hubungan dengan Thailand sejak 1897. Pelabuhan menghentikan operasinya pada tahun 1947, dan komplek ini menjadi mangkrak hingga akhirnya tahun 2011 perusahaan real estate TCC Land berencana untuk merenovasi dan mengembangkan lahan sebagai komplek ritel dan hiburan yang akhirnya berdirilah Asiatique The Riverfront ini. Gambaran lengkap tentang Asiatique bisa akses disini

    Ada 4 distrik area di pasar malam ini, yaitu Distrik Charoenkrung yang berisi lebih dari 1000 butik souvenir, camilan, makanan, minuman, barang kerajinan. Distrik Town Square yang mempertemukan budaya barat dan timur seperti taman bir, aktivitas outdoor, Distrik Factory yang berisi butik fashion, dan terakhir Distrik Waterfront yang ditempati berbagai resto, bar, cafe dengan brand internasional.

 

warna-warni camilan

 

aneka rasa dan bentuk es lilin

 

aneka camilan olahan produk laut

 

    Sebelum lanjut melihat-lihat di area ini, kami dinner dulu di salah resto chicken rice. Usut punya usut ternyata chicken rice disini merupakan cabang dari resto yang ada di Singapore, namun untuk harga masih murah disini. Selain restoran, shopping, di dalam sini area ini terdapat juga hiburan seperti ferris wheel raksasa tapi masih kalah gede dibandingkan dengan yang di Singapore.

 

Chicken Rice buat santap malam

 

Patung Hidup

 

    Ada lagi satu hiburan yaitu tempat pertunjukan kabaret yang pemainnya semuanya waria namanya Calypso Bangkok, untuk karcis jangan ditanya kalo beli on the spot pasti mahal, jika tertarik coba bandingan dengan beli online disini. Hanya ada 2 kali pertunjukan dalam 1 hari yaitu jam 20.15 dan 21.45, dengan kapasitas tempat duduk sekitar 450 orang. Kami sendiri tidak nonton pertunjukan ini jadi nggak bisa komen bagus atau tidaknya.

 

Loket Calypso Bangkok

 

    Setelah puas berkeliling akhirnya kami kembali lagi ke dermaga untuk naik free shuttle lagi. Jika ingin naik free shuttle boat ini, perhatikan jam layanan terakhir dan jangan kaget dengan antrian pengunjung yang bakal mengular saat jam pulang. Free shuttle akan mengantar ke dermaga Central (Sathorn Pier), selepas turun di dermaga, saya kembali ke hotel dengan naik BTS.

 

Papan Free Shuttle Boat



4 Jejak Komen
  • Suryani

    Wed 18 Nov 2015, 17:36pm
    mau nnya nih min, ak mau k coral island mau ke pulau ny sewa speedboat or gmn ya min supaya lebih murah? :)

    Merespon

  • Ety

    Fri 15 May 2015, 10:06am
    Bro phuketnya mana....sy kangen sama foto2 d phiphi islan, maya, viking dsb.... Dah lama... Pengink sana lg blm ksampaian...

    Merespon

    • Yvzur

      Sun 17 May 2015, 13:28pm
      Halo Ety
      wah sayang sekali sis, pergi ke phuketnya ketunda hehehe....

      Merespon


Ninggalin Jejak





 (opsi : Isikan link web-mu jika ada)



     Ikuti jejak komentar via email (Subscribe)

Kode Sekuriti